Jumat, 20 Januari 2012

Anak Sekolah Rela Menantang Maut

Coba lihat gambar ini, miris rasanya hatinya ini melihat kondisi rakyat miskin yang berada didaerah, anak-anak berjuang melawan maut dengan bergelantungan di jembatan nyang sudah tidak layak, tapi mereka rela karena mereka ingin tetap terus bisa pergi kesekolah. Jembatan itu adalah penghubung anatara desa Sangiang Tan­jung dengan Desa Pasir Tan­jung, Ke­camatan Rang­kas­bitung. Jembatan tersebut merupakan satu satunya jalan pintas yang paling cepet dan murah yang menghubungkan antar kedua desa, jika tidak lewat jembatan tersebut ada jalan alternatif yang akan membutuhkan waktu yang cukup lama sekitar 1 sampai 2 jam.

Berapa besar resiko yang ditempuh anak-anak sekolah itu, dia hanya bergelantungan menijakan kakinya di satu sling besi yang tersisa dari jembatan itu. kondisi itu bebanding terbalik dengan kemewahan yang yang ada di wakil rakyat, yang serba mewah, bisa bisa merenovasi toilet dengan biaya 2 milyar, renovasi ruangan sebesar 20 milyar dan membuat kalender konon biaya mencapai 1.2 milyar. Dimana toilet-toilet itu masih layak dipakai dan ruang rapat banggar juag masih layak dipakai. 

Caba kalau biaya pengadaan kalender digunakan untuk kepentingan rakyat, unutk memperbaiki jembatan jembatan penghubung yang rusak, bukankah akan lebih bermanfaat. Tapi mungkin ini penilaian dari sudut pandang rakyat jelatan dan pasti akan berbeda dengan sudut pandang para wakil rakyat.

Mudah- mudahan baik pemerintah maupun aggaota dewan yang terhormat bisa diberikan kesadaran untuk dapat memikirkan Rakyatnya, bukan memikirkan untuk dirinya sendiri. Amin Amin Yarobal Alamin

0 comments:

Posting Komentar