Tampilkan postingan dengan label salatiga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label salatiga. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2012

Lokasi Wisata Di Salatiga

Salatiga adalah kota kecil di propinsi Jawa Tengah, mempunyai luas wilayah ± 56,78 km², terdiri dari 4 kecamatan, 22 kelurahan, berpenduduk 176.795 jiwa. Terletak pada jalur regional Jawa Tengah yang menghubungkan kota regional Jawa Tengah yang menghubungkan kota Semarang dan Surakarta, mempunyai ketinggan 450-800 meter di permukaan laut dan berhawa sejuk serta dikelilingi oleh keindahan alam berupa gunung (Merbabu, Telomoyo, Gajah Mungkur).
Kota Salatiga dikenal sebagai kota pendidikan, olah raga, perdagangan, dan transit pariwisata. Dibawah ini adalah Lokasi Wisata Di kota Salatiga:

No Nama Lokasi Daya Tarik
1 Agrowisata Salib Putih Jl. Hasanudin Km. 4, Salatiga (Jalan Raya Salatiga - Kopeng) Keindahan, pemandangan, dan kesejukan alam perkebunan.
Fasilitas: jogging track, outbound location, perkebunan, peternakan, camping ground, hotspot area, restaurant, dan meeting room.
2 Wahana Air Atlantic Dreamland Jl. Soekarno-Hatta, Isep-isep, Salatiga Tersedia bermacam-macam wahana permainan seperti: kolam renang, waterboom, water toys, water ball, circullar track, jet coaster, carousel, boom-boom car, softplay, game center, battery car, ATV, flying fox, kuda poni, trampoline, dan lain-lain.
3 Kolam Renang Kalitaman Jl. Kalitaman Kolam renang tertua di Salatiga dengan air mata alami.
Fasilitas: kolam renang dewasa, kolam renang anak-anak, papan loncat, taman bermain anak, ruang bilas, dan ruang tunggu.
4 Cagar Budaya Prasasti Plumpungan Kauman Kidul Situs bersejarah tentang asal-mula Kota Salatiga.
5 Desa Wisata Tingkir Lor Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir, Salatiga Pusat konveksi.
Makam Kyai Abdul Wahid (kakek dari KH. Abdurrahman Wahid).
6 Wisata Budaya Suran Ki Hajar Sampurno (1 Suro) Sugihwaras, Randuacir Ritual yang dipercaya dapat menunjukkan peruntungan atau nasib seseorang.
7 Wisata Budaya Tirakatan Hari Jadi (23 Juli) Plumpungan, Kauman Kidul Tirakatan dan gelar kesenian wayang kulit semalam suntuk.
8 Wisata Budaya Kirab Budaya Hari Jadi (24 Juli) Rumah Dinas Walikota - Lapangan Pancasila Acara ini diikuti oleh berbagai komponen masyarakat Kota Salatiga.
9 Wisata Membatik Batik Plumpungan Puri Satya Permai Blok IV / 5, Kemiri, Salatiga Belanja batik Plumpungan, belajar membatik tulis, membatik cap, mencolet warna, mopoki, nitiki, melorot malam, dan lain-lain
10 Wisata Belanja Kue Kering UMKM "Saga" Jl. Fatmawati Saga adalah kependekan dari "Snack Salatiga" yang diresmikan oleh Walikota Salatiga.
Tersedia makanan unggulan seperti enting-enting gepuk, kripik paru, abon, kecap, dendeng, dan lain-lain.
11 Wisata Budaya Saparan (Bulan Sya'ban) Tegalrejo dan Noborejo Wisata budaya religi.
12 Wisata kuliner sate kambing Jl. Diponegoro dan sepanjang Jl. Fatmawati, Blotongan Sate kambing muda khas Blotongan.
13 Wisata kuliner Kawasan Lapangan Pancasila dan sekitarnya Tersedia bermacam-macam kuliner di pusat kota.
14 Wisata kuliner lesehan Jl. Jend. Sudirman dan Jl. A. Yani Tersedia bermacam-macam kuliner di sepanjang jalan.
15 Wisata kuliner Ronde Mak Pari Kelurahan Kalicacing Tersedia ronde dengan beraneka ragam rasa.
16 Wisata kuliner Ronde Jago Pasar Raya II, Kelurahan Kutowinangun Tersedia ronde dengan beraneka ragam rasa.


Sumber : Pemkot Salatiga

Selengkapnya...

Senin, 05 Desember 2011

Asal Usul Kota Saltiga

Sejarah

Ada beberapa sumber yang dijadikan dasar untuk mengungkap asal-usul Salatiga, yaitu yang berasal dari cerita rakyat, prasasti maupun penelitian dan kajian yang cukup detail. Dari beberapa sumber tersebut Prasasti Plumpungan-lah yang dijadikan dasar asal-usul Kota Salatiga. Berdasarkan prasasti ini Hari Jadi Kota Salatiga dibakukan, yakni tanggal 24 Juli 750 yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kota Salatiga Nomor 15 Tahun 1995 tentang Hari Jadi Kota Salatiga.  

Prasasti Plumpungan 
Prasasti Plumpungan, cikal bakal lahirnya Salatiga, tertulis dalam batu besar berjenis andesit berukuran panjang 170cm, lebar 160cm dengan garis lingkar 5 meter yang selanjutnya disebut Prasasti Plumpungan. Berdasar prasasti di Dukuh Plumpungan, Desa Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, maka Salatiga sudah ada sejak tahun 750 Masehi, pada waktu itu Salatiga merupakan perdikan. Perdikan artinya suatu daerah dalam wilayah kerajaan tertentu. Daerah ini dibebaskan dari segala kewajiban pajak atau upeti karena daerah tersebut memiliki kekhususan tertentu, daerah tersebut harus digunakan sesuai dengan kekhususan yang dimiliki. Wilayah perdikan diberikan oleh Raja Bhanu meliputi Salatiga dan sekitarnya. Menurut sejarahnya, di dalam Prasasti Plumpungan berisi ketetapan hukum, yaitu suatu ketetapan status tanah perdikan atau swantantra bagi Desa Hampra. Pada zamannya, penetapan ketentuan Prasasti Plumpungan ini merupakan peristiwa yang sangat penting, khususnya bagi masyarakat di daerah Hampra. Penetapan prasasti merupakan titik tolak berdirinya daerah Hampra secara resmi sebagai daerah perdikan atau swantantra. Desa Hampra tempat prasasti itu berada, kini masuk wilayah administrasi Kota Salatiga. Dengan demikian daerah Hampra yang diberi status sebagai daerah perdikan yang bebas pajak pada zaman pembuatan prasasti itu adalah daerah Salatiga sekarang ini. Konon, para pakar telah memastikan bahwa penulisan Prasasti Plumpungan dilakukan oleh seorang citralekha (penulis) disertai para pendeta (resi). Raja Bhanu yang disebut-sebut dalam prasasti tersebut adalah seorang raja besar pada zamannya yang banyak memperhatikan nasib rakyatnya. Isi Prasasti Plumpungan ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Sansekerta. Tulisannya ditatah dalam petak persegi empat bergaris ganda yang menjorok ke dalam dan keluar pada setiap sudutnya. Dengan demikian, pemberian tanah perdikan merupakan peristiwa yang sangat istimewa dan langka, karena hanya diberikan kepada desa-desa yang benar-benar berjasa kepada raja. Untuk mengabadikan peristiwa itu maka raja menulis dalam Prasasti Plumpungan Srir Astu Swasti Prajabhyah, yang artinya: "Semoga Bahagia, Selamatlah Rakyat Sekalian". Ditulis pada hari Jumat, tanggal 24 Juli tahun 750 Masehi.  

Zaman Kolonial 
Lukisan oleh Josias Cornelis Rappard yang menggambarkan gereja di Salatiga (tahun 1880-an) Pemandangan jalan di Salatiga di tahun 1918 Salatiga pada masa kolonial tercatat sebagai tempat ditandatanganinya perjanjian antara Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said (kelak menjadi KGPAA Mangkunegara I) di satu pihak dan Kasunanan Surakarta dan VOC di pihak lain. Perjanjian ini menjadi dasar hukum berdirinya Kadipaten Mangkunegaran. Pada zaman penjajahan Belanda telah cukup jelas batas dan status Kota Salatiga, berdasarkan Staatsblad 1917 No. 266 Mulai 1 Juli 1917 didirikan Stadsgemeente Salatiga yang daerahnya terdiri dari 8 desa. Karena dukungan faktor geografis, udara sejuk dan letak yang sangat strategis, maka Salatiga cukup dikenal keindahannya di masa penjajahan Belanda, bahkan sempat memperoleh julukan "Kota Salatiga yang Terindah di Jawa Tengah".  

Zaman Kemerdekaan 
Kotamadya Daerah Tingkat II Salatiga adalah bekas stadsgemeente yang dibentuk berdasarkan Staatsblad 1929 No. 393 yang kemudian dicabut dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kecil Dalam Lingkungan Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.  

Geografi 
Salatiga terletak di ketinggian 750-850 mdpl, dan terletak di lereng timur Gunung Merbabu yang membuat daerah Salatiga menjadi lebih sejuk. Pemandangan Gunung Ungaran, Gunung Telomoyo, dan Gunung Merbabu yang indah membuat Salatiga menjadi daerah yang indah dan spektakuler. Seluruh Wilayah Salatiga dibatasi oleh Kabupaten Semarang, antara lain di bagian utara berbatasan dengan Kecamatan Tuntang dan Kecamatan Pabelan, di bagian selatan berbatasan dengan Kecamatan Tengaran, di bagian barat berbatasan dengan Kecamatan Tuntang dan Kecamatan Getasan, di bagian timur berbatasan dengan Kecamatan Tengaran dan Kecamatan Pabelan.  

Pendidikan  
Di kota ini terdapat Universitas Kristen Satya Wacana, salah satu universitas swasta ternama di Indonesia, yang pernah terkenal di tahun 80-an karena kekritisan para mahasiswa dan dosennya terhadap Pemerintah Orde Baru. Selain itu terdapat pula STAIN Salatiga, satu-satunya perguruan tinggi Islam di Kota Salatiga yang berdiri berkat dukungan berbagai pihak terutama para ulama dan pengurus Nahdlatul Ulama Jawa Tengah. Sekolah-sekolah menengah di Salatiga melalui Internet dihubungkan dalam Jaringan Pendidikan Salatiga. Adapun sekolah-sekolah menengah umum di Salatiga antara lain SMA Negeri 1 Salatiga, SMA Negeri 2 Salatiga, SMA Negeri 3 Salatiga, dan beberapa SMA swasta. Sedangkan untuk sekolah kejuruan ada SMK Negeri 1 Salatiga, SMK Negeri 2 Salatiga, SMK Negeri 3 Salatiga dan beberapa SMK swasta. Di Salatiga ada 10 SMP Negeri, 1 MTs Negeri dan beberapa SMP swasta seperti SMP Stella Matutina, SMP Kristen 1, SMP Kristen 2, dan SMP Laboratorium Satya Wacana. Adapun beberapa SD Negeri yang tersebar di banyak daerah dan juga swasta yang banyak terpusat diperkotaan.  

Transportasi 
Salatiga memiliki dua terminal, yang bernama Tingkir yang melayani bis tujuan AKDP Jateng dan AKAP Jateng, seperti Jakarta hingga Denpasar, Bali, dan Tamansari yang melayani jalur dalam kota. Untuk transportasi massal, Salatiga memiliki angkutan dengan tujuan beberapa daerah di sekitar Salatiga. 

Sumber : Wikipedia

Selengkapnya...

Senin, 03 Januari 2011

Sejarah Desa Tengaran

Desa Tengaran adalah dese delereng gunung Merbabu, yang merupakan kota kecamatan masuk dalam wilayah Kabupaten Semarang. Desa Tengaran terletak antara Boyolali dan Salatiga. ini adalah peta kecamatyan Tengaran :


Asal muasal Tengaran
Tengaran dahulunya adalah Dusun Kaliwaru, pemerintahan Dusun Kaliwaru konon dimulai sekitar tahun 1800, Pemerintahan desa Kaliwaru atau sekarang dikenal desa Tengaran diawali pada masa perjuangan Nyi Ageng Serang melawan penjajahan Hindia Belanda. Pada masa itu yang memimpin desa Tengaran sebagai akuwu atau kepala desa adalah Ki Tengaran. Beliau sangat bijaksana tahu akan kebutuhan rakyatnya, Kehidupan masyarakat pada saat itu sangat tentram dan damai. Bila rakyatnya mendapat gangguan dari manapun termasuk begal, rampok atau gangguan yang lain, Ki Tengaran akan tampil di depan membela rakyatnya, Ia terkenal sakti mandra guna. Ibarat ora tedas tapak paluning pande sisaning gurindo, tinatah mendat jinoro menter ditembak lakak - lakak di bedil mecicil artinya seseorang yang tidak mempan terkena senjata tajam atau senapan. Selain itu Ia juga tabib, dimana bila ada orang yang sakit atau terkena guna-guna tentu larinya ke Ki Tengaran. Maka tidak mustahil Ia sangat terkenal sampai di ibu kota pemerintahan.

Ilmu kesaktian itu ia dapatkan dari Umbul Tirto yang terdapat di ujung desa ,dimana memang tempat itu banyak mengeluarkan aura untuk kesaktian dan penyembuhan.Ki Tengaran mendapatkan ilmu itu dengan jalan laku batin, tirakat, tidak tidur dan kungkum, kesemuanya itu mohon kepada gusti Allah agar mendapat ridlo - Nya. Pepatah mengatakan “ Pucuk gunung tidak akan bisa kita taklukkan mana kala tanpa mendakinya” Itulah yang menjadi tekat KiTengaran dalam memperdalam ilmunya.
Suatu ketika ibu kota kerajaan mendapat gangguan pencuri yang mengambil pusaka keraton yaitu Kyai Kurbakur. Pusaka itu sebuah keris luk tiga belas dari pendok sampai ujung berlapis emas. Semua punggawa keraton sudah di kerahkan untuk mencarinya namun apa daya usahanya nihil belaka. Maka sang rajapun mengadakan sayembara untuk mendapatkan pusaka itu kembali. Bila siapapun yang dapat menemukannya akan diberi hadiah mas inten rojo brono. Termasuk akan minta apapun akan di beri. Sayembara itu tedengar sampai di telinga Ki Tengaran. Maka bergegaslah Ia ke ibu kota kerajaan untuk mengikuti sayembara dengan tekat mengembalikan pusaka tersebut ke kerajaan.
Singkat cerita Ki Tengaran bisa menemukan pencuri yang mengambil pusaka keraton. Pencuri itu tiada lain Ki Gologito dari gunung Merbabu yang sudah malang melintang di kalangan hitam. Maka terjadilah perkelaian yang luar biasa. Dengan ilmu Brojo mustinya, dimana ilmu itu bisa menghancurkan batu sebesar gubug. Ki Tengaran bisa menaklukkan Ki Gologito dengan mudahnya. Pusaka Keraton yang berada di tangan Ki Gologito bisa direburtnya.
Namun Tuhan menentukan lain pusaka yang berada di tangan Ki Tengaran jatuh ke tanah menjadi ular besar. Anehnya ular tersebut bisa bicara bahwa ia akan di kembalikan ke keraton tidak mau, bahkan makin lama menjadi membesar. Ki Tengaran khawatir ular itu membahayan masyarakat maka ular itu di sabet dengan sodo lanang. Meninggallah ular tersebut. Sekarang meliuk liuk dari sebelah timur jembatan sungai serang sampai di dusun Poncol. Lidahnya menjadi sawah di ujung desa. Sampai sekarang konon ceritanya orang dusun Poncol Desa Klero tidak berani membuat sumur karena yang keluar bukannya air tetapi darah. Kembali ke Ki Tengaran yang termenung melihat ular itu maka lapor ke raja yang mengadakan sayembara, menceriterakan apa yang terjadi dengan gamblang. Maka sabda pendita ratu bila dusun Kaliwaru itu menjadi ramai maka desa itu dinamakan Tengaran.
Sumber : Mohamad Ali Yafi

Pemerintahan Desa Tengaran
Desa Tengaran merupakan Kota Kecamatan yang meliputi dusun-dusun atau keluarahan-keluarahan yang masuk dalam wilayah Kecamatan Tengaran. Desa Tengaran memiliki luas tanah 261,85 Ha.
Yang membawahi 15 Desa yaitu :
1. Nyamat
2. Barukan
3. Bener
4. Tegalwaton
5. Karang Duren
6. Patemon
7. Butuh
8. Klero
9. Cukil
10. Regunung
11. Duren
12. Tegalrejo
13. Sruwen
14. Sugihan
15. Tengaran.

Secara Administratif Desa Tengaran berbatasan dengan :
* Sebelah utara berbatasan dengan kota Salatiga
* Sebelah selatan berbatasan dengan kota Boyolali dan kecamatan Susukan
* Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Getasan
* Dan sebelah timur berbtasan dengan Kecamatan Suruh

Tempat Wisata
Desa Tengaran mempunyai daya tarik tersendiri karena disekitarnya banyak terdapat daerah wisatanya, diantaranya :
* Candi Klero
Candi Klero atau kadang disebut Candi Tengaran merupakan candi hindu yang terletak di Desa Klero, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Sumber : http://teamtouring.net





* Mata Air Senjoyo
Wisata Mata Air Senjoyo adalah sendang yang merupakan sumber mata air yang terletak di sebelah selatan timur Salataiga.





Selengkapnya...

Watch TV on Computer